Sejarah Desa Gunelap




    

        Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang ada di Asia Tenggara. Indonesia terletak di antara dua benua yaitu benua dan dua samudera. Indonesia memiliki banyak pulau dengan beberapa wilayah bagian seperti provinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa. Setiap provinsi memiliki potensi daerah yang beraneka ragam. Salah satunya Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur yang terletak di Pulau Madura.
 
Kabupaten Bangkalan terdiri atas beberapa wilayah bagian salah satunya adalah kecamatan Sepulu. Kecamatan Sepulu memiliki luas wilayah sebesar 71.26  km2. dengan batas wilayah sebelah utara adalah Laut Jawa, sebelah timur adalah Kecamatan Tanjung Bumi, sebelah selatan adalah Kecamatan Kokop dan Kecamatan Geger seta sebelah barat adalah Kecamatan Klampis. Kecamatan Sepulu memiliki beberapa desa yang sangat menarik dengan potensi yang beragam salah satunya adalah desa Gunelap.

Desa Gunelap memiliki luas wilayah sebesar 9,97 km2. Jarak antara desa Gunelap dengan kecamatan sepulu adalah 10 km. Desa Gunelap memiliki daya tarik yang unik, baik dari bidang pertanian maupun lingkungan sosial dan budaya. 

            Desa Gunelap merupakan salah satu desa yang memiliki sejarah religi yang melegenda. Sejarah Desa Gunelap terbentuk karena adanya suatu peristiwa atau benda peninggalan yang bersifat simbolik. Benda tersebut adalah dua buah buju’ yang terdapat di Desa Gunelap yaitu buju’ Guna dan buju’ Pelak. Kedua Buju’ tersebut dipercayai oleh masyarakat sekitar sebagai makam suci yang dapat berguna dan bermanfaat baik bagi masyarakat sekitar. 

            Pada zaman dahulu hingga sekarang kedua buju’ tersebut masih ada di Desa Gunelap. Selain kedua buju’ tersebut, pada saat ini juga ada 44 buju’ di Desa Gunelap. Berdasarkan kedua benda peninggalan sejarah tersebut, sehingga masyarakat Desa Gunelap berharap warga desa bisa berguna dan bermanfaat baik bagi masyarakat sekitar. 

Interaksi masyarakat Desa Gunelap satu dengan yang lainnya terjalin dengan baik sehingga koordinasi antara kepala dusun dan masyarakatnya mudah dilakukan. Masyarakatnya kebanyakan merupakan satu keluarga yang memang sudah sejak lama di desa Gunelap. Sehingga silaturahmi, tenggang rasa, serta kegiatan gotong royong mereka sangatlah tinggi. Keadaan sosial di desa Gunelap ini sudah dikatakan baik, hal ini dapat dilihat dari keadaan masyarakat yang sudah mengenal dunia luar, warganya pun tidak buta akan tekonologi meskipun realitanya terhambat dengan jaringan atau signal yang seringkali susah dijangkau. Sistem komunikasi masyarakat desa Gunelap sudah lancar dengan berbagai adanya perkembangan teknologi. Masyarakat desa Gunelap tidaklah tertinggal dari segi teknologi. Sistem penyebaran informasi pun tidak hanya diumumkan di masjid-masjid saja namun juga sudah menuju modern yaitu menggunakan via facebook dan Whatsapp

Desa Gunelap ini disebut sebagai desa keramat diantara desa-desa lainnya yang ada di Bangkalan, karena di desa ini terdapat 44 buju’ dan oleh masyarakat Gunelap  itu sendiri buju’ tersebut dianggap buju’ sakti. Salah satu buju’ sakti yang sering kali di jumpai oleh masyarakat Gunelap yaitu buju’ sapeh. Buju’ sapeh ini mengundang kepercayaan dan tradisi tersendiri bagi warga Gunelap. Buju’ yang sampai saat ini dijuluki buju’sakti karena dipercayai ketika ada sapi yang sakit cukup dengan bernadzar untuk membawa makanan apapun ke buju’ tersebut misalnya nasi kuning, kolak dll. Cukup dengan bernadzar saja diyakini sudah sembuh namun ketika  benar-benar sapi tersebut sembuh maka hal yang dinadzarkan harus benar-benar di realisasikan. Misalnya bernadzar dengan membawa kolak. Seusai bernadzar dan sapi tersebut sembuh, maka orang yang bernadzar wajib membawa kolak ke buju’ sapeh.

Perspektif Budaya Masyarakat di Desa Gunelap sangat kental dengan budaya Islam. Meskipun tradisi budaya ketimuran sendiri berkembang dan banyak dipengaruhi ritual keagamaan atau kepercayaan masyarakat sebelum agama Islam masuk. Karena masyarakat desa Gunelap kental dengan religinya maka kegiatan rutinan juga masih terlestarikan di desa ini. Setiap malam jumat warga desa Gunelap mengadakan kegiatan Burdah yang diselenggarakan oleh perempuan dan laki-laki mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Burdahan tersebut dilaksanakan seusai sholat isya’tempatnya yaitu  bergantian rumah yang akan dijadikan tuan rumahnya.

Kegiatan religi tersebut tidak hanya dilaksanakan pada malam jum’atnya. Namun pada hari jum’atnya juga ada kegiatan religi yaitu rutinan yaasiinan namun pada kegiatan ini hanyalah para warga perempuannya saja biasanya dilaksanakan pada pukul 14.00-15.00 WIB. 40 harian, pengajian, selametan, tahlilan. Semua masih terlaksana di desa Gunelap ini. Tradisi mengirim do’a untuk orang tua atau leluhur yang dilakukan dengan mengundang para tetangga dan kerabat. Tradisi mengundang orang di desa Gunelap diberi nama Kouleman (Undangan). Sama halnya dengan tradisi tahlilan yang dilakukan mulai dari hari pertama sampai ketujuh harinya keluarga yang ditinggal mati. Semua tradisi tersebut dilakukan selain sebagai kepercayaan yang masih diyakini sekaligus sebagai perantara untuk menyambung silaturahmi (kegiatan berinteraksi di masyarakat). Meskipun pada zaman dahulunya di desa Gunelap ini religinya dikatakan sangatlah rendah, masyarakat desa Gunelap awalnya tidak ada masjid, masyarakatnya yang masih nyaris minum-minuman keras, tidak heran jika saat itu masih ada tradisi selamatan namun di dalamnya diisi dengan acara ayam tarung. Tidak hanya hal tersebut tradisi aremo (pesta) yang diiringi dengan alat-alat musik yang dinamakan lenong dan juga terdapat penari nyindennya yang setiap menampilkan persembahannya di sawer oleh warga yang datang ke acara tersebut terutama para lelaki lumrahnya. Tradisi remo lenong itu digelar setiap tahunnya sekali yang bertempat di sumber, sumber ini dianggap keramat oleh masyarakat karena dipercayai sumber tersebut ada dengan sendirinya. Jadi tradisi remo lenong tersebut dilaksanaan untuk selametan sumber tersebut, jika selamatan yang digelar tidak menggunakan alat musik lenong dan tidak ada penari sindennya maka dipercayai sumber tersebut akan meluap deras dan terjadilah banjir.

Namun, seiring berjalan waktu, tradisi-tradisi tersebut saat ini sudah musnah semenjak hadirnya H. Samsuddin ke desa Gunelap. H. Samsudin ini berasal dari desa Modung namun menikah dengan perempuan asli desa Gunelap sehingga ia menetap di desa ini. Semenjak itulah desa Gunelap ini terdapat beberapa masjid dan madrasah-madrasah. Beliau pertama kali yang mengajarkan tentang agama hingga dari berbagai dusun dan desa lain ikut mengaji di tempat Hj. Samsudin dengan adanya berbagai madrasah pondok dan lemabga-lemabga pengajian mengakibatkan tradisi-tradisi yang dianggap tabu pun sudah musnah dan sekarang diganti dengan pengajian saja yang pada umumnya digelar oleh desa-desa lainnya tanpa dengan adanya adu ayam dan tarian-tarian dari penyinden.

0 komentar: