Sejarah Yayasan Al-Hidayah Desa Gunelap


salah satu lembaga non-formal Yayasan Al-Hidayah
 Yayasan Al Hidayah awalnya bernama lembaga Nurul Hidayah yang didirikan pada tahun 1984 oleh sekelompok tokoh sesepuh, diantaranya adalah alm KH Nurul huda, alm Kaijadi, dan Kyai Miski. dan juga beberapa tokoh pemuda seperti H. Zainulloh Huda,  Muarif Syamsudin, H. Zainul Akbar sholeh, dan Syarifudin. awalnya lembaga tersebut berdiri di lahan milik swadaya masyarakat yang berada di daerah Sajangan, Dusun Gunelap timur, Desa Gunelap (sekitar 500 m dari tempat sekarang). dan dari hasil musyawarah pemilihan kepala madrasah, menghasilkan H. Zainul Akbar sholeh sebagai kepala masdrasah. namun H. Zainul Akbar sholeh saat itu masih menimba ilmu di pondok pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa timur. terkiat penamaan Madrasah Nurul Hidayah sendiri adalah atas usulan dari H. Zainul Akbar sholeh dari hasil musyawarah bersama para pengurus.


Sekitar tahun 1980-an, atas musyawarah bersama lokasi madrasah dipindah dari daerah Sajangan ke daerah  Sumber agung, yang masih di Dusun Gunelap timur, Desa gunelap. Lalu sepulang dari Pasuruan, sekitar tahun 1990-an, melihat kondisi madrasah yang masih belum terstruktur, baik dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau dalam struktur kepengurusan kemudian atas usulan H. Zainul Akbar sholeh sebagai kepala madrasah yang telah dimusyawarahkan dengan tokoh dan pengurus, menghasilkan banyak kesepakatan. diantaranya seperti keputusan untuk mengambil guru tugas dari pondok Sidogiri, Pasuruan, Jawa timur yang berjumlah 2 orang tiap tahun dengan masa tugas 1 tahun. dan juga merenovasi gedung madrasah secara bertahap. atas kegigihan H. Zainul Akbar sholeh dalam mencari donasi baik dari dalam hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Saudi arabia, maka berdiri tegaklah madrasah Nurul Hidayah seperti sekarang ini. sampai tahun 2018 ini, Madrasah Nurul Hidayah sudah 2 kali direnovasi.

Pada tahun 2011 H. Zainul Akbar menikah dan tinggal di indramayu, Jawa barat. hall ini membuat kepengurusan kepala madrasah berganti, dari H. Zainul Akbar sholeh ke Muarif Syamsuddin (cucu dari H. Syamsudin, tokoh yang mensiarkan agama islam di Gunelap) dari 2011 hingga sekarang yang dipilih atas musyawarah bersama. Kemudian dari situ terbentuklah keputusan baru yang memperbaharui berbagai bidang. dan H. Zainul Akbar sholeh sendiri menjabat sebagai pengasuh madrasah Nurul hidayah.

Selama Muarif Syamsuddin menjabat sebagai kepala madrasah menghasilkan kepengurusan yang baru yang lebih struktural. salah satunya adalah dengan keputusan untuk menempatkan perwakilan komite untuk disebar disetiap penjuru area, istighosah setiap satu bulan sekali di malam senin wage di masjid al-hidayah, dan juga keputusan untuk setiap wali murid dan para alumni (baik yang ada dalam negeri ataupun diluar negeri) diwajibkan mengisi kas dengan jumlah 200rb yang bisa dicicil selama 2 tahun. Namun ternyata hanya 40% saja yang masuk kas. dari kas 40% tersebut kemudian dikelola untuk keperluan operasional madrasah.

Selain itu, para dewan guru juga menyepakati untuk menambah jenjang baru, yakni madrasah tsanawiyah al-hidayah, yang masih satu lembaga dengan madrasah Nurul hidayah. hal tersebut dikarenakan melihat para murid setelah lulus dari madrasah yang masih dini. Namun baru bisa terealisasikan di awal tahun 2017. kemudian seiring berkembangnya jaman yang semakin pesat, lembaga Nurul Hidayah pun berganti menjadi Yayasan Al-Hidayah atas inisiatif Cholies Al alif, keponakan Muarif Syamsuddin, yang Saat itu menjabat sebagai sekretaris Madrasah. perubahan tersebut sudah diwacanakan dari tahun 2011, namun baru dapat terealisasikan di tahun 2016 awal.

Dengan adanya yayasan yang sudah terbentuk saat ini, harapaan dari masyarakat Gunelap menjadi semakin besar. terlebih dari segi pendidikan formal, seperti PAUD yang awalnya tidak ada. dan rencananya di periode 2018-2019, yayasan Al-hidayah ingin membuka Sekolah Dasar Islam (SDI) yang rencananya akan ditempatkan sementara di madrasah Nurul Hidayah. Selain itu sebagian para murid madrasah setelah lulus ada yang mondok dan bekerja. dari yang mondok tersebut dianjurkan untuk mengabdi di madrasah. untuk masa tugasnya tidak ditentukan. dan untuk alumni lainya, baik yang bekerja atau yang tidak mondok kebanyakan ikut membantu mengajar dikelas dasar.

Yasasan pendidikan Al-Hidayah memiliki beberapa lembaga. baik formal maupun non-formal. dari non-formal sendiri diantaranya adalah Madrasah Diniyah Nurul hidayah yang memiliki 7 kelas, dari kelas Shifir (nol) dan kelas 1-6. dan Madrasah Tsanawiyah ada 3 kelas (1-3). MTQ (Majelis Taklim Qur’an) yang berada di masjid Al-Hidayah dibagi 3 kelompok (kelompok mengenal huruf, belajar membaca, sampai tartil Qur’an). untuk Formal sementara masih PAUD (Kelompok Bermain atau didingkat KB dan TK atau Taman kanak-kanak). dan dengan melihat jumlah alumi yang meneruskan ke jenjang perguruan tinggi, besar harapan untuk kemajuan Yayasan Al-hidayah. karena diharapakan para alumni tersebut ikut berpartisipasi dalam kemajuan Yayasan secara khusus, dan Desa Gunelap secara umum.


Struktur kepengurusan yayasan Al-Hidayah:


0 komentar: